Menjaga Amanah, Menyatukan Langkah Pendidikan di Al-Ma’moen
20 August 2026
Pendidikan tidak pernah selesai hanya di ruang kelas. Ada keluarga yang menitipkan harapan, ada guru yang menerima amanah, dan ada anak-anak yang sedang bertumbuh di antara keduanya.
Semangat itulah yang menjadi ruh dalam Rapat Orang Tua/Wali Murid Kelas VII SMP-Pesantren Al-Ma’moen pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Pertemuan ini menjadi ruang untuk menyatukan langkah antara sekolah dan orang tua dalam mendampingi perjalanan pendidikan murid selama berada di Al-Ma’moen. Kegiatan diawali dengan kebersamaan melalui lantunan Shalawat 7 Prinsip Jihad dan Shalawat 8 Jalur Hubungan, yang menjadi bagian dari nilai dan budaya Al-Ma’moen.
Selanjutnya, Kepala Sekolah menyampaikan arahan kepada para orang tua mengenai arah pendidikan dan berbagai program yang akan dijalankan di Al-Ma’moen. Penyampaian tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesamaan visi antara sekolah dan keluarga dalam mendampingi peserta didik selama menjalani proses pendidikan.
Berbagai informasi juga disampaikan oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Kesiswaan, Sarana dan Prasarana, Hubungan Masyarakat, Bimbingan dan Konseling, serta Bendahara. Setiap bidang memberikan gambaran mengenai aspek yang berkaitan dengan perjalanan pendidikan siswa selama berada di Al-Ma’moen. Wali kelas juga menyampaikan pengantar mengenai pengasuhan positif dan hak anak. Sebuah pengingat sederhana bahwa setiap anak perlu didampingi dengan perhatian, penghargaan, dan ruang untuk tumbuh sesuai prosesnya.
Namun, ada satu momen yang menjadi bagian khas dari pertemuan ini.
Di penghujung kegiatan, berlangsung akad penyerahan amanah pendidikan. Orang tua menyerahkan kepercayaan kepada Al-Ma’moen untuk mendampingi putra-putrinya selama menjalani proses pendidikan. Sekolah pun menerima amanah tersebut dengan penuh tanggung jawab. Sebuah akad yang sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. Sebab yang dititipkan bukan sekadar seorang murid. Di dalamnya ada harapan orang tua, doakeluarga, potensi yang sedang tumbuh, dan masa depan yang belum selesai ditulis. Menerima titipan itu berarti bersedia hadir dalam prosesnya. Membimbing ketika ia keliru, menguatkan ketika ia lelah, dan mengarahkan ketika ia mulai mencari jalannya sendiri.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pemilihan Paguyuban Kelas VII, sebagai ruang kolaborasi dan komunikasi antara orang tua dan sekolah. Pada akhirnya, pertemuan ini bukan hanya tentang apa yang harus diketahui, tetapi tentang apa yang ingin dijaga bersama.