SMP Pesantren Al-Ma’moen dan Jejak Keteguhan di Bumi Perkemahan Sarongge
14 September 2026
Cianjur, 5 September 2026 | Ada pelajaran yang barangkali terlalu luas untuk ditampung dinding kelas. Ia memerlukan hamparan tanah, desir pepohonan, malam yang panjang, dan kebersamaan yang perlahan mengikis sekat di antara sesama
Di Bumi Perkemahan Sarongge, PERJUSA SMP Pesantren Al-Ma’moen Tahun Pelajaran 2026/2027 berlangsung pada 4 sampai 5 September 2026. Bukan semata perkara bermalam dan berpindah ruang, melainkan perjalanan kecil untuk menajamkan disiplin, kemandirian, kepemimpinan, dan ukhuwah.
Rundown yang bergerak dari kedatangan, ibadah, perjalanan, upacara, perlombaan, hingga kebersamaan seperti aksara yang ditorehkan perlahan pada tabula muda. Ada yang kelak lekang oleh waktu, ada pula yang menetap menjadi watak.
Morse, semaphore, sandi, PBB, hasta karya, mengaji, hingga pertolongan pertama hadir sebagai rangkaian tantangan. Bukan sekadar gelanggang bagi yang hendak menang, tetapi semacam tungku tempat keteguhan dipijarkan, kecermatan diasah, dan keberanian diberi bentuk.
Sebab yang dibawa pulang kelak bukan selalu nama yang tertera di papan kemenangan. Piala hanyalah kilau sesaat; laku yang tertanam jauh lebih senyap, tetapi panjang umurnya. Lalu datang waktu ketika riuh mereda. Di hamparan alam terbuka, barisan menata diri dalam ibadah. Langit menjadi kubah yang tak dibangun tangan manusia. Bumi menerima dahi-dahi yang bersujud. Pepohonan tegak dalam diamnya, sementara angin melintas seperti membawa kabar yang tak perlu diterjemahkan. Di sana, batas antara manusia dan alam terasa lebih tipis. Tak ada kemegahan selain langit yang luas, dan tak ada jarak selain hati yang sedang mencari Tuhannya.
Salat Dhuha mengawali perjalanan, sementara Qiyyamul Lail menemani malam yang telah surut dari hiruk-pikuk. Dalam senyap itu, doa menemukan tempatnya sendiri. Ketika sebagian mata terpejam, ada hati yang memilih berjaga.
Api unggun kemudian menyala. Pentas seni, permainan, dan kebersamaan mengisi malam. Nyala itu tidak besar, tetapi gelap selalu tahu cara menghargai cahaya.
Pagi menyingkap kembali perjalanan melalui aktivitas bersama hingga games dan operasi semut. Alam yang semula hanya menjadi tempat berpijak perlahan menjelma ruang tafsir, tempat anak-anak belajar bahwa menjaga sesuatu sering bermula dari hal yang nyaris tak dipandang.
Kemudian tibalah penutup. Tenda dilipat. Langkah kembali diarahkan pulang. Sarongge kembali kepada sunyinya. Namun, tidak semua yang dibawa pulang memiliki wujud yang dapat ditenteng. Ada sesuatu yang barangkali masih samar: sedikit lebih berani, sedikit lebih tertib, sedikit lebih mampu berdiri tanpa selalu dituntun. Begitulah Pramuka bekerja. Ia tidak tergesa-gesa menjadi jawaban. Ia hanya menanamkan sebutir makna, lalu membiarkan waktu menjadi tanahnya.
Dan kelak, ketika kehidupan membuka rimba yang sebenarnya, semoga mereka telah mengenali jalan, meski tidak selalu memiliki peta.