SMP Pesantren Al-Ma’moen Raih Juara 3 Kejuaraan Futsal
15 September 2026
Ada kemenangan yang lahir dari riuh sorak. Ada pula yang tumbuh dalam senyap, ketika kaki mulai berat dan napas tak lagi panjang. Di antara keduanya, para pemain futsal SMP Pesantren Al-Ma’moen menempuh perjalanan yang tidak semata-mata mengukur siapa paling unggul, melainkan siapa yang tetap tegak ketika pertandingan menuntut lebih dari sekadar tenaga.
Dalam fase penyisihan, Al-Ma’moen membuka langkah dengan menundukkan MTs Tanwiriyyah, 5-3. Laga berikutnya mempertemukan mereka dengan SMP ZAD IQBS (International Qur’anic Boarding School), yang berakhir dengan kemenangan tipis 1-0.
SMP Islam Cendekia B kemudian hadir sebagai lawan ketiga. Lima gol bersarang ke gawang lawan, sementara dua balasan tak mengubah arah kemenangan. Pada pertandingan keempat, SMP Islam Cendekia A kembali menjadi medan perjumpaan. Al-Ma’moen menutup fase penyisihan dengan kemenangan 3-1.
Empat laga. Empat kemenangan. Namun, setiap kemenangan selalu menyimpan pertanyaan yang lebih tua daripada sorak: sejauh mana seseorang sanggup mempertahankan pijakannya ketika jalan mulai menyempit?
Babak gugur membawa Al-Ma’moen berhadapan dengan SMP Baitul Ilmi. Enam gol menjadi jawaban atas satu gol lawan. Kemenangan 6-1 mengantarkan mereka ke pertandingan berikutnya, tempat SMP Al Kamil telah menunggu.
Di sana, arus pertandingan berbalik. Satu gol menjadi jarak yang tak berhasil dipulihkan. Al-Ma’moen menelan kekalahan 0-1 dan harus merelakan langkah menuju puncak.
Namun, gugurnya sebuah harapan tidak selalu berarti berakhirnya perjalanan. Sebab, masih ada satu ruang yang dapat diperjuangkan. Ruang yang tidak menjanjikan mahkota, tetapi tetap menyimpan kehormatan.
Pada perebutan juara ketiga, Al-Ma’moen kembali berhadapan dengan ujian. Pertandingan berlangsung dalam kedudukan 2-2. Dua gol dari masing-masing pihak menjaga laga tetap berada di ambang penentuan.
Maka, titik putih menjadi tempat segala kemungkinan dipertaruhkan.
Dalam adu penalti, Al-Ma’moen akhirnya menutup laga dengan kemenangan 6-5. Perunggu pun menjadi milik mereka.
Bukan emas yang dibawa pulang. Bukan pula kemenangan tanpa cela. Tetapi ada sesuatu yang lebih panjang usianya daripada hasil akhir: keberanian untuk kembali memasuki gelanggang setelah kekalahan merampas arah.
Di balik perjalanan tersebut, lima belas pemain menjadi bagian dari ikhtiar yang sama. Mereka bukan sekadar nama dalam daftar susunan tim, melainkan jejak-jejak kecil dari sebuah perjuangan yang dirajut bersama.
1. Arkha Patih Bugis Ramadhan, 9D
2. Muhammad Zein Al Aziz, 9B
3. Khoirul Najmi, 9D
4. Satria Ramadhan, 9B
5. Moch Zulvy Mirza, 9D
6. Galang Julio Haryanto, 9A
7.Muhamad Fadil Arrizky, 9B
8. Raihan Tegar Ramadhan, 9F
9. Muhammad Arkaan Arifin, 9F
10. Moch Subhan Arasyd, 9B
11. Nafis Fadlan Arraffi, 9E
12. Moch Rajib Saputra, 9C
13. M Abdian Maulana Mujib, 9D
14. Muhammad Sulthon Syahreza Irfan, 9C
15. Jaya Kusuma, 9D
Mereka telah melewati kemenangan, kekalahan, dan penentuan yang menggantung di antara harap dan cemas. Dari sana, mereka membawa pulang sebuah pengertian: bahwa keberhasilan tidak selalu berwujud puncak. Kadang, ia hadir sebagai kesanggupan untuk tidak meninggalkan perjuangan ketika puncak telah menjauh.
Capaian ini juga tak lahir dari langkah yang berjalan seorang diri. Terima kasih kepada Kepala Sekolah, guru pembimbing, pelatih, orang tua, dan seluruh teman yang telah menyertai perjalanan ini dengan doa, arahan, serta dukungan yang tak pernah surut.
Perunggu ini bukan semata milik lima belas pemain. Ia adalah buah dari ikhtiar yang dipikul bersama. Perunggu itu kini menjadi bagian dari perjalanan mereka. Bukan sebagai penutup, melainkan sebagai tanda bahwa masih ada gelanggang lain yang menanti, dan masih ada langkah yang belum selesai.